Kamis, 09 Juni 2016

Pandangan Terhadap Imunisasi 


            Salam sejahtera untuk kita semua, pada postingan kali ini saya akan membahas tentang kasus yang kontroversial yaitu penggunaan imunisasi pada anak. Imunisasi adalah suatu tindakan dengan sengaja memasukkan vaksin berupa mikroba hidup yang sudah dilemahkan dengan tujuan memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit menular yang dapat membahayakan bagi anak kelak seperti hepatitis, dipteri, polio, TBC, tetanus, pentusis dan campak (Proverawati dan Andhini, 2010).
            Kasus imunisasi ini tidak hanya diperdebatkan diluar negeri, negara Indonesia pun turut memperdebatkan. Pasalnya vaksin itu sendiri menggunakan media ginjal kera, babi, aborsi bayi, darah orang yang tertular penyakit infeksi yang notabene pengguna alkohol, obat bius, dan lain-lain. Sementara itu penduduk Indonesia mayoritas beragama islam yang dalam syariat dilarang mengonsumsi makanan yang bersumber dari babi. Hal yang menjadi tonggak dilarang (haram) makan babi dapat dilihat dari sifat babi itu sendiri. dan senada dengan penjelasan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah tentang masalah istihlak (bercampurnya benda najis atau haram pada benda yang suci sehingga mengalahkan sifat najis baik rasa, warna dan baunya).
وَاَللَّهُ – تَعَالَى – يُخْرِجُ الطَّيِّبَ مِنْ الْخَبِيثِ وَالْخَبِيثَ مِنْ الطَّيِّبِ، وَلَا عِبْرَةَ بِالْأَصْلِ، بَلْ بِوَصْفِ الشَّيْءِ فِي نَفْسِهِ، وَمِنْ الْمُمْتَنِعِ بَقَاءُ حُكْمِ الْخُبْثِ وَقَدْ زَالَ اسْمُهُ وَوَصْفُهُ،
Dan Allah Ta’ala mengeluarkan benda yang suci dari benda yang najis dan mengeluarkan benda yang najis dari benda yang suci. Patokan bukan pada benda asalnya, tetapi pada sifatnya yang terkandung pada benda tersebut (saat itu). Dan tidak boleh menetapkan hukum najis jika telah hilang sifat dan berganti namanya.”
            Enzim pada babi, vaksin bertindak sebagai katalisator yang sudah hilang melalui proses pencucian, pemurnian dan penyulingan sehingga sifatnya dapat hilang. Dalam islam sendiri memperbolehkan mengonsumsi hal yang dilarang apabila tidak ada pengganti lainnya, penyakit yang harus diobati dan yakin obat tersebut bermanfaat dalam mencegah penyakit tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa imunisasi diperbolehkan sesuai dengan keyakinan apabila keyakinan tersebut tidak membawa mudarat.

Daftar Pustaka
Al-Jauziyyah, Ibn Al-Qayyim. (2006). Prophetic Medicine, (terj.) Ahmad Asnawi.   Jakarta:                            Diglosia Media.
Proverawati, A., Andhini, DS., (2010). Imunisasi dan Vaksinasi, Numed, Yogyakarta.

            Peran Perawat dalam Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit

         Salah satu tenaga kesehatan yang secara berkelanjutan kontak dengan pasien adalah perawat. Status kesehatan pasien baik itu sehat ataupun sakit di hadapi oleh perawat tanpa mendeskriminasi. Jika ditilik dari peran perawat tersebut maka perawat memiliki kontribusi terhadap terjadinya cara penularan infeksi nosokomial disamping keluarga pasien, peralatan medis dan lingkungan rumah sakit itu sendiri (Kozier, 2010).
            Infeksi adalah masuk dan berkembangnya mikroorganisme dalam tubuh yang menyebabkan sakit disertai dengan gejala klinis (Potter and Perry, 2005). Sedangkan nosokomial berasal dari bahasa Yunani yaitu kata nosos berarti penyakit dan komeo artinya merawat. Jadi, infeksi nosokomial adalah suatu jenis penyakit menular yang ditularkan melalui agen patogen yang dapat berpindah ke orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung yang terjadi pada perawat atau pasien saat dilakukan perawatan di rumah sakit.
            Data menyebutkan bahwa pada tahun 2005 prevalensi infeksi nosokomial menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di dunia. Sementara di Indonesia menurut Depkes RI tahun 2007 kejadian infeksi nosokomial menunjukkan angka yang signifikan yaitu  6-16% dengan rata-rata 9,8%, dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia masih rendah.
            Dalam hal ini, dibutuhkan peran perawat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit diantaranya dengan mencuci tangan (sebelum dan sesudah melakukan tindakan; setelah kontak dengan cairan tubuh; setelah memegang alat yang terkontaminasi); memakai alat perlindungan diri (menggunakan masker; kacamata pelindung; sarung tangan dan gaun); menggunakan anti septik; mengamankan peralatan yang tajam; menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan serta pembuangan sampah secara benar. Apabila upaya pencegahan dapat diterapkan dengan baik  dan benar maka sedikit demi sedikit angka kejadian infeksi nosokomial dapat di minimalisirkan. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati.


DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. (2007). Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi di Rumah          Sakit dan Fasilitas Kesehatan Lainnya. Jakarta
Kozier, B., Erb, Glenora., Berman, A., dan Snyder, S. (2010). Buku Ajar      Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik Edisi 7 Volume 2.             Penerjemah Pamilih Eko Karyuni dan Dwi Widiarti. Jakarta : EGC.
Potter, P. A and Perry, A. G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,         Proses, dan Praktik Edisi 4 Volume 1. Penerjemah Yasmin Asih, dkk. Jakarta:    Salemba Medika.


Minggu, 05 Juni 2016

Menilik Peran Perawat Antara Idealita dengan Realita dalam Penerapan Patient Safety

     Perawat yang merupakan salah satu dari bagian tim medis berperan untuk bertanggungjawab terhadap keselamatan (safety) pasien, promosi, optimalisasi kesehatan, pencegahan penyakit dan cedera, dan mengurangi penderitaan dalam merawat individu, keluarga, ataupun masyarakat. Menurut Departemen Kesehatan tahun 2008 menyebutkan bahwa keselamatan pasien merupakan suatu asuhan yang bertujuan untuk membuat pasien lebih aman, mencegah terjadinya cedera baik itu fisik, psikologi, sosial, cacat dan kematian yang disebabkan oleh kesalahan yang tidak diharapkan terjadi terkait dengan pelayanan kesehatan. Dalam hal ini peran perawat dalam mewujudkan keselamatan pasien dirumah sakit sangat dibutuhkan.
            Peran perawat dalam mewujudkan keselamatan pasien dirumah sakit diantaranya: pemberi pelayanan keperawatan dengan mematuhi standar pelayanan dan SOP yang telah ditetapkan, menerapkan prinsip etik dalam pemberian pelayanan, memberikan pendidikan kepada pasien dan keluarga pasien tentang asuhan yang diberikan, menerapkan kerjasama tim dalam rangka mencapai kesembuhan pasien, menerapkan komunikasi yang baik terhadap pasien dan keluarga, serta mendokumentasikan dengan benar asuhan keperawatan yang diberikan.
            Sistem keselamatan pasien meliputi pengenalan resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk meminimalkan resiko. Dengan system keselamatan yang telah ditetapkan tersebut diharapkan dapat mencegah cedera yang disebabkan oleh suatu kesalahan akibat dari kesalahan dalam bertindak. Bagai dua sisi mata uang dalam kenyataannya, masih terdapat tindakan yang menyalahi aturan yang telah ditetapkan tersebut.
            Kesalahan yang sering terjadi dilakukan diantaranya adalah dalam pendokumentasikan. Seperti tindakan yang telah dilakukan tidak dicatat atau tindakan yang sudah dicatat namun belum dilakukan, tindakan salah dalam pemberian obat terhadap pasien, tindakan salah dosis dalam pemberian obat. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dan sikap perawat tentang pemberian tindakan terhadap keselamatan pasien.


Daftar Pustaka
DepKes RI. 2008. Panduan nasional keselamatan pasien rumah sakit. Jakarta
Marseno, Rhudy. 2011. Keselamatan Pasien Rumah Sakit
Suarli, .S dan Yanyan Bahtiar. 2009. Manajemen Keperawatan dengan                                                Pendekatan  Praktis. Jakarta: Erlangga

Pengalaman Upaya Pencegahan Injury
            Selamat malam reader, izinkan saya menyampaikan pengalaman pribadi yang masih membekas sampai saat sekarang ini. Yups, kecelakaan lalu lintas. Kejadian tersebut terjadi bulan November 2015. Kronologis ceritanya seperti ini sahabat semua, saat itu saya diajak teman satu UKM untuk menyebarkan surat undangan ke fakultas yang ada di Purwokerto terkait workshop metode kepenulisan. Sesuai kesepakatan, kami berangkat pukul delapan pagi karena pukul satu siang saya ada kuliah sementara teman saya masuk kuliah pukul sepuluh.
            Kemudian saya di jemput ke kos oleh teman saya tersebut menggunakan motor. Tempat destinasi utama fakultas yang akan diantar undangan adalah YLPP. Setelah semua tugas yang di emban selesai, kami berencana untuk makan bersama. Sepanjang perjalanan kami bercerita terkadang ditengah cerita diselipi tawa. Tiba-tiba…bruuukkkk kami menabrak seorang wanita paruh baya yang sedang mengayuh sepeda dari belakang  tampak sebuah kotak diikat ke dudukan sepeda yang didalamnya berisi daging ayam potong yang siap di pasarkan.
            Wanita tersebut tersungkur diiringi sepeda yang turut ambruk mengenai kaki. Sedangkan saya terjatuh dari motor dengan posisi tangan kiri menopang tubuh sementara kedua kaki terlipat dan teman saya masih diatas motor. Sontak kami semua terkejut dalam kondisi tersebut. Kemudian kami di tolong oleh warga setempat, kami disuguhkan air es teh. Namun perut saya mual tak bisa menerima makanan apapun. Yang terlintas dalam pikiran saya adalah ingin dipijat karena tangan saya berasa sakit karena keseleo.
            Kemudian saya diantar teman mencari tukang pijat. Setelah bertemu saya dibawa ke dalam kamar untuk di pijat. Badan saya terasa sakit semua saat dipijat terutama pada bagian tangan kiri. Lalu saya diantar ke kos dan disarankan untuk istirahat oleh teman tapi saya menolak. Sedangkan luka di area telapak tangan, saya bersihkan dengan air hangat kemudian di keringkan dan diberi betadin. Upaya pencegahan yang dilakukan adalah fokus dalam berkendara, gunakan helm, sepatu  dan alat pelindung diri lainnya.